Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

Mobil-Mobilan Baru



Sebagai pembuka dari keabsenan saya sekian lama, baru bisa sempet menampilkan foto mobil-mobilan aa Zaheer, hadiah pemberian dari ateu nya. Diterima hari ini, 23 Februari 2012.

Photobucket

Welcome Back

Assalamu’alaikum.. Hai halo apa kabar semuanya? Mudah-mudahan kita semua berada dalam situasi terbaik kita. Kembali saya menyapa temen-temen blogger semua. Setelah selama 3 bulan lebih saya total pakem, sama sekali gak menyentuh yang namanya inet apalagi ngeblog. Well.. selama itu, apakah ada dari sobat bloger yang bertanya-tanya, kemana jeng Des?? Gimana kabarnyo? Atau masih panjang umurkan ia? Gimana pula kabar anak nya yang ganteng sedunia? Hehe… atau mungkin gak ada yang peduli sama sekali, diriku ada dan tiada sama saja ..

Yah .. bagaimana pun situasinya, pertama-tama saya ucapkan mohon maaf lahir dan bathin. Momen idul fitri tahun ini pun, kurang lebih 2 bulan yang lalu, saya belum menyempatkan diri bersilaturrahmi kepada temen-temen semuanya (yang merayakannya).


Kedua-dua.. tanggal 7 September kemaren adalah hari lahir saya.. dengan kata lain, saya berulangtahun yang ke 27 tepatnya. **Give me applause..prok..prok..prok!!**. Serangkaian doa pun dipanjatkan kepada Sang Maha Kuasa, berbagai pengharapan dan rasa sukur atas limpahan karunia-Nya yang tak terkira. “Mudah-mudahan tahun-tahun kedepannya akan lebih baik dan lebih baik lagi.. amin yaa robb”

Mundur lagi ke bulan Juli. Ada apa dengan Juli?? Saya mendapatkan kado terindah tahun ini. Apaan tuch jeng? Tepat tanggal 26, kami diberikan 1 kepercayaan lagi oleh-Nya. Ya.. 26 Juli adalah kelahiran adiknya Zaheer. Sesosok bayi mungil hadir dalam kehidupan kami, akan menghiasi dan menyertai hari-hari kami berikutnya. Tangisan, tawa, canda.. bertambah ramai lah suasana rumah kami. Alhamdulillah…

Tentang bagaimana cerita kelahirannya? Seperti apa prosesnya? Laki-laki atau perempuankah? Saya baru akan mengulasnya di episode selanjutnya. Jadi yang merasa penasaran, simak yaa.. dan yang nggak.. yaa nggak usah repot-repot..

Oya, menyoal kelahiran anak kedua yang mepet banget dengan bulan Ramadhan, otomatis satu bulan penuh saya jebol, alias bolong, alias gak berpuasa, gak kebagian sehari pun. Biasa lah, abis lahiran pastinya nifas. Saya kebetulan nifasnya lama, nyampe 60 hari. Waah..jadi punya utang sebulan penuh nich. Mesti udah mulai nyicil. Kalo diitung itung 30 hari dibagi 10 bulan, jadi minimal dalam sebulan saya mesti nyicil 3 hari. Enteng yah keliatannya, cuma 3 hari perbulan. Tapi ngejalaninnya lumayan berat ternyata. Apalagi plus menyusui. Tapi kalo diniatkan dengan ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya.. yaa akan terasa mudah. Give me spirit n support sobat.. ayoo kamu bisa!!

Insya Allah temans, kedepannya saya akan menyempatkan bersiaturrahmi lagi. Walopun gak seintens sebelumnya. Selama cuti (3 bulan) saya sama sekali gak mengunjungi temans semua, selain karena ritme waktunya masih agak susah dengan kehadiran si new baby, saya juga lebih memilih memanfaatkan waktu luang buat beres-beres rumah, selebihnya.. yaa istirahat atau tidur.. soalnya tau sendiri lah ya.. kini malam-malam busui (dahulu bumiil: red) selalu dihiasi dengan bergadang, demi memberikan segentong demi segentong susu, menghapuskan rasa lapar dan dahaga yang dirasa oleh sang anak. Begitu kurang lebih alasannya.. harap maklum ya temans.. Kalo sekarang mungkin agak lain, selama ngantor akan ada waktu browsing…browsing.. lah dikit-dikit hehe..nyempil nyempil di waktu luang dan agak mepet, hehe...

Oke dech kalo begitu, segitu saja dulu pembuka saya dari libur panjang kali ini dan belum ada foto yang siap dipajang. See u again temans..

Photobucket

Tebak Tebak Buah Manggis

Kali ini aku bukan mau mengajak zobat zemua maen tebak-tebakan. Tapi mau mengungkap tentang banyaknya ketidak tahuan-ku. Salah satunya yaa ini, istilah “tebak-tebak buah manggis”. Dari kecil aku belum pernah mengetahui (menanyakan pun nggak) arti harfiyah dan asal muasal adanya istilah tersebut. Taunya hanya kalo ketika ada seseorang mengajak atau sedang main tebakan, maka keluarlah bahasa itu, “tebak-tebak buah manggis”.

Kenapa buah manggis? Dan bukan buah duren, buah delima atau buah melon?

Jawabnya : karena buah manggis itu istimewa. Berapa jumlah ruas daging di dalamnya bisa dilihat dari tanda seperti bintang kecil yang terdapat di kulit bagian bawah buah. Kalo bintangnya berujung lima, maka jumlah ruas di dalamnya pun ada lima. Kalo bintangnya berujung enam, bisa dipastikan ruas di dalamnya ada enam. Hal ini kan beda dengan buah duren atau buah duku yang kita gak tau berapa ruas daging di dalamnya kecuali dengan mengupasnya dulu. Lebih rumit untuk menebaknya.

Pemain tebak-tebakan akan mengikis tanda bintang kecil itu, membuatnya rata dengan kulit buah. Menyamarkan, jadi susah untuk ditebak. Kadang dijadikan taruhan untuk saling menebak berapa jumlah ruas di dalamnya. Lawannya akan menimang-nimang, memperhatikan dengan seksama, berusaha untuk menebak, sok jago gituuuuh. Sayangya aku belum nemu gambar buah manggis yang difoto dari bagian bawahnya.

Kebanyakan buah manggis mempunyai lima, enam atau tujuh ruas. Empat dan delapan ruas termasuk jarang. Tiga dan sembilan sangat langka. Dua dan sepuluh.. hmmm.. fantastis susah dicarinya. Jangan tanya yang cuma satu ruas, mungkin hampir bisa dikatakan gak ada. Walopun sebenernya, gak ada yang mustahil di dunia ini. Nah, konon katanya buah manggis yang cuma memiliki 2 ruas, bisa jadi mahal harganya. Ck..ck..ck.. bisa sampe segitunya yah..

Oooh jadi begonoh toh asal muasal peribahasa “tebak-tebak buah manggis” ntu. Wah, payah nich akyu, hal ginian aja baru tahu, hehe.. telatttt..!


Photobucket

Abang Becak

Nyanyi dulu ah, mengenang masa kecil. “Naik Becak”

Saya mau tamasya
Berkeliling keliling kota
Hendak melihat-lihat
keramaian yang ada
S
aya panggilkan becak
Kereta tak berkuda
Becak, becak, coba bawa saya

Saya duduk sendiri
sambil mengangkat kaki
Melihat dengan asyik

Ke kanan dan ke kiri
Lihat becakku lari
Bagaikan tak berhenti
Becak, becak, jalan hati-hati
*end*

Kalo Anda jalan-jalan ke Cirebon, dan sedikit mau tengak tengok dengan mengerjap-ngerjapkan mata, maka Anda akan menjumpai banyak pangkalan-pangkalan becak hampir di setiap pinggiran jalan. Terutama jalan-jalan yang ramai dikunjungi orang, seperti di depan-depan mall atau toserba dan juga di pasar-pasar. Banyak juga tukang-tukang becak ini kita jumpai di tiap perempatan jalan wilayah perboden, yang gak bisa dilalui oleh kendaraan angkutan umum.

Dannn .. sering aku temui pemandangan yang bikin hati pilu dan miris. Sekelompok tukang becak yang berumur sudah tidak muda lagi alias sudah sepuh yang kesehariannya hanya mendapat 1-2 penumpang. Bahkan gak jarang pula aku temui beberapa penarik becak yang dalam suatu hari gak dapet penumpang sama sekali, hanya tiduran di atas becaknya, sambil berharap-harap cemas akan datang penumpang. Giliran dapet penumpang, bawaannya banyak banget dengan tarif yang gak seberapa, hasil tawar menawar . Maka pas si tukang becak mengayuh becaknya dengan kaki gemetaran sekuat tenaga menahan beban berat penumpangnya, berusaha tetap bisa menjalankan becaknya. Dengan tenaga ke-tua-annya, becak bisa melaju dengan sangat pelan, di bawah terik matahari, dengan peluh bercucuran. Belum lagi pas menemukan jalan yang menanjak, turunlah si tukang becak, mendorong becaknya karena merasa kakinya tidak kuat lagi mengayuh becak di jalanan yang menanjak.

Adapun si penumpang, dengan cuek bebek nya dia tetap duduk bertumpang kaki, gak peduli itu jalan menurun atau mananjak, gak peduli kesusahan seorang tukang becak, karena dengan begitu dia merasa telah menjadi salah satu jalan rizki si abang becak. Dan karena juga si tukang becak pun gak merasa perlu dikasihani, bahkan dia asik-asik aja dengan kerjaan nya yang demikian itu. Perasaan senang di hatinya, karena akan bisa membawakan beberapa bungkus nasi untuk makan anak dan istrinya.

Kalo melihat ini, malu aku dibuatnya. Apa yang kulakukan selama ini? Seringnya aku lupa bersyukur dengan keadaanku sekarang ini yang mungkin bisa dibilang lebih dari mereka yang kesehariannya hanya mendapatkan penghasilan beberapa ribu perak saja, hasil dari mengantarkan satu dua orang penumpang. Bahkan gak jarang aku masih suka mengeluh dan mengeluh, berharap dan menginginkan apa yang aku dapatkan bisa lebih dari yang sekarang sudah ku dapatkan.

Astaghfirullah Al ‘adhim. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan??”

Photobucket

Memilih Profesi

”Enaknya mending ngajar atau gawe ya?”. Beberapa waktu lalu ada seorang temen yang nanyain hal itu. Intinya doi curhat, lebih baik jadi guru atau staf/karyawan. Hmmm..pilihan yang sama-sama kuat menurutku. Kedua profesi itu masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya, keduanya sama-sama berpeluang untuk tetap bisa mengembangkan potensi diri. Untuk guru, berkesempatan mengembangkan potensi ilmiyahnya, salah satunya dengan cara continyu mengadakan penelitian yang dilakukan di kelas dengan jalan merencanakan, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif

dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, juga meningkatkan kreatifitasnya dalam membuat media pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.

Untuk kelebihan sebagai karyawan, bawahan biasanya selalu ada rasa kompetitif untuk meningkatkan kariernya. Dengan sehat mereka saling berlomba meningkatkan potensi yang dimiliki, dengan selalu memperbanyak wawasan, berani dalam berpendapat atau bereksperimen, solid dan kooperatif, memperbanyak relasi sehingga bisa memperluas pergaulan, dan sebagainya. Kalo dengan mulus dijalani, bukan gak mungkin bisa menduduki posisi TOP.

Di samping itu, kita juga mesti liat dulu latar belakang pendidikan kita, potensi dan kesukaan. Ada beberapa orang yang dasarnya suka dengan ajar-mengajar, memiliki kemampuan mengayomi siswa dan membimbing. Beberapa orang lainnya menikmati kerjaan berkutat di belakang komputer dengan setumpuk tugas yang harus diselesaikannya.

Nah, kalo suka dua-duanya, tinggal mengukur kapasitas dan kemampuan yang dimiliki, bukan cuma asal seneng aja dengan saah satu profesi yang kita pilih. Dan kalo mampu dua-duanya, kenapa enggak?? Gak ada salahnya kok memiliki 2 profesi sekaligus, sebagai pengajar/guru dan sebagai pegawai/karyawan. Asal mesti mempertimbangkan waktu yang dimiliki.

So, teruntuk temenku yang masih bingung, selamat memilih yaa nek.. karena hidup itu memang selalu gak lepas dari yang namanya pilihan.

Photobucket

12 Bulan Kasih Sayang

Ada banyak alasan kenapa aku memutuskan untuk memilih beliau sebagai pendamping hidupku. Sudah pasti yang pertama terlihat adalah tentang cashing nya yang wokeh punya. Semua orang yang mengenalnya tak meragukan hal itu. Badannya yang tegap, tinggi untuk ukuran orang Indonesia, bisa dibilang cukup atletis lah. Wajahnya yang cakep abiz, membuat cewek manapun yang melihatnya akan tersepona pada pandangan pertama, kelepek..kelepek... Ditambah dengan warna kulit yang putih untuk ukuran laki-laki, karena emang selain bawaan dari sonohnya, doski juga rajin perawatan, tapi gak sampe nyalon loh, cuma rajin luluran, rajin bersihin muka, selalu wangi dan rapi. (tapi bukan necis yah). Cool abez pokoknya. Ini semua kan kata-kata istrinya!! Gak kalah dech ma Aaron Kwok, idolaku semasih zaman jahiliyah dulu (hehe..jadi malu!).



Soal karakter, hubi adalah seorang yang berpendirian kuat, walopun kadang agak memaksakan kehendak, tentunya dengan bukan tanpa alasan yang bener (versi nya). Agak kereng. Jujur dan baik hati. Penyantun anak-anak kecil. Sopan, ramah terhadap siapa pun. Mungkin kalo yang dihadepinnya berupa sosok cewek yang agak ge-er an maka jangan heran kalo bisa bikin kesemsem dalan sekejap.

Bebet, bobot, bibit. Gak salah juga orang tua jaman dulu (bahkan sekarang pun iya), mewajibkan ketiga hal ini dalam hal penyeleksian calon menantunya. Yang aku liat dalam hal ini dari belio, bahwa dia berasal dari keturunan yang baik-baik, agamanya pun insya Allah baik. Ini hal yang utama yang aku tekankan pada calon misua ku. Karena bagaimanapun rumahtangga itu gak melulu memandang fisiknya yang aduhai. Juga gak melulu menikmati kekayaan yang melimpah. Tapi lebih kepada bagaimana seorang suami bisa menjadi pemimpin dalam mengarungi kehidupan keluarga di dunia juga bisa menjadi penuntun istri dan anaknya dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal kelak.


Singkat cerita, daku pun dikhitbah olehnya, tepatnya pada tanggal 26 Januari 2007. Aku punya lagu agak lama yang mewakili keadaanku saat itu adalah lagunya Naff yang judulnya Akhirnya Ku Menemukanmu. Cucok bangets. Pokoknya saat itu doski bener-bener telah menawan hatiku hanya padanya seorang. Dari situlah sebenernya awal mula ku mengenalinya lebih jauh. Ajang ta’aruf. Setelah ku kenal seluk beluk tentangnya, makin tertambatlah hati ini hanya untuknya.


Dan 25 Mei 2007 pernikahan pun digelar. Dengan niat suci membangun sebuah istana yang berlandaskan cinta dan kasih sayang. Saling membangun dalam memperdalam mahabbah kepada-Nya. Maka, janji suci pun diikrarkan, akan selalu setia sampai kapanpun juga. Senasib sepenaggungan, sehidup tapi tak semati, hehe… dengan harapan kelak setelah yaumil akhir pun kita akan tetap dipertemukan dan disatukan. Amin.


kupercaya apapun yang akan terjadi nanti

kau tetap mempesona rahasia di lagu ini

tak peduli berapakah berat badanmu nanti

kau tetap yang termuach di hati

kauakui kutak hanya hinggap di satu hati
kutakuti kuterlalu liar tuk dimiliki
walau itu semua hanya persinggahan egoku
dan sikapmu tlah merobohkan aku


dan waktupun terus berlari
dan aku pun semakin mengerti
apa yang akan aku hadapi

apa yang akan aku cari


aku tuliskan lagu sederhana

untuk dirimu yang sangat bijaksana

memahamiku dan mencintaiku
apa adanya

(lyric: Sheila on Seven)

Dan .. Inilah penampakan kami.



Kini, 4 tahun kurang 3 bulan sudah kami arungi bahtera rumahtangga yang penuh dengan kebahagiaan. Gak jarang halangan dan rintangan pun menyentuh kami. Percekcokan dan perselisihan pendapat kami jadikan sebagai bumbu dalam kehidupan kebersamaan kami. Perbedaan sifat, karakter dan kebiasaan, kami jadikan sebagai kekayaan kami. Segala kekurangan dari diri masing-masing yang dulu belum nampak, kami coba cover semuanya dan saling menambalnya. Kesederhanaan yang selalu kami usahakan dalam mewarnai hari demi hari kami.

Alhamdulillah di usia pernikahan kami yang ke-4 kurang 4 bulan ini kami sudah dikaruniai seorang buah hati, jundi dan pelipur lara. Kini sudah berusia 2 tahun 10 bulan. Dan sebentar lagi insya Allah 5 bulanan lagi akan hadir satu jundi/jundiah lagi. Mudah-mudahan semua putra-putri kami kelak akan menjadi orang yang shalih dan sholehah. Mampu menjadikan hari-harinya lebih baik lagi dari hari-hari kami. Amin.


Postingan ini aku sertakan untuk meramaikan quiz TANDA CINTA DI JANUARI yang digelar oleh Zulfadhli’s Family. Wish me luck!


Photobucket

DIMANA HATI NURANI?

Keukeuh ternyata, pembangunan gedung baru (yang kabarnya akan ada ruangan pelayanan SPA-nya) akan tetep dilaksanakan. Dengan mengabaikan pro dan kontra, yang ternyata sudah bisa ditebak, kalo diadakan survey terhadap masyarakat akan banyak yang kontranya dari pada yang pro. Kalo keadaannya kayak gini, lalu apa substanstinya ya?

1,31 triliun rupiah. Adalah bukan angka yang kecil (mungkin bagi beliau-beliau adalah GAK SEBERAPA). Di tengah personalan-persoalan yang sedang melanda negeri tercintah ini (berbagai bencana, juga kasus-kasus besar yang belum terselesaikan secara tuntas), hal tersebut teramat sangat menyakiti hati rakyat.

Mungkin perlu diingatkan kembali, bahwa dana tersebut bukanlah dana suatu instansi atau suatu lembaga, tapi dana dari RAKYAT.

Masih banyak bidang-bidang lain yang lebih penting menurut kami (rakyat kecil) yang memerlukan dana tidak sedikit. Pendidikan, pangan, kemiskinan, gelandangan, anak-anak yatim piatu. Orang-orang para korban bencana. Mau diapakan dan dibawa kemana mereka, kami, para rakyat kecil? Memang .. katanya untuk hal-hal ini.. udah ada pos-pos anggaran tersendiri? Tapi coba kalo kita kalkulasikan, dari 1,31 triliun itu berapa juta anak-anak yang putus sekolah bisa disekolahkan? Berapa ribu unit rumah bisa dibangun untuk para gelandangan dan para korban bencana? Berapa luas lapangan kerja yang bisa dibangun untuk para tunakarya? Dsb.

Kalo boleh sedikit membandingkan, dalam hal pendidikan misalnya, di China contohnya. Biaya pendidikan tingkat perguruan tinggi itu kabarnya bisa murah. Jadi mereka bener-bener mementingkan pendidikan untuk kemajuan bangsanya. Di kita, sekolah setingkat SD aja yang katanya sudah gratis, masih banyak pungutan biaya ini itu.
Gimana pendidikan kita bisa maju ya? Udah gitu ditambah lagi dengan adanya proses pengangkatan PNS khususnya guru, juga dibisniskan. Beberapa waktu lalu sampe ada demo memprotes soal penerimaan CPNS yang gak jujur dan adil. Jadi dari kualitas pendidiknya aja juga sudah kurang bisa dipertanggungjawabkan. Karena orientasinya uang. Kalo yang beruang, maka bisa lolos, sedangkan yang gak punya uang, se-briliant apa pun orangnya hanya bisa gigit jari.

Kembali soal gedung baru. Oke.. katanya rencana pembanguna gedung baru ini sudah dari tahun-tahun sebelumnya. Oke.. mungkin ketika rapat anggota d***n, katanya semua fraksi sudah sepakat. Oke.. katanya lagi, dana sekian ini sudah dianggarkan/sudah ada alokasinya, jadi gak mengambil dari anggaran pos manapun. Oke.. katanya juga, hal ini sudah ketok palu!!! Tok..Tok..dok… Oke!

Lets see ajah, apakah dengan adanya gedung baru ini nantinya bisa memperbaiki kinerja para penghuni di dalamnya?? Yahhh lets see..!

Photobucket

KEMISKINAN AKUT

Hai.. friends.. jumpa lagiii. Beberapa waktu terakhir ini aku lagi benah-benah kerjaan nich, baik kerjaan rumah maupun kerjaan nguli, jadi bener-bener gak bisa mengunjungi temens semuanya., dan baru bisa bersilaturrahmi hari ini. Dan seperti biasa ini juga nyempil-nyempil di jam kerja. hehe.. sssst jangan bilang-bilang yach.

Kali ini aku baru tau kalo ada istilah semacam ini, kemiskinan akut. Sebelumnya yang aku tau bahasa akut itu cuma buat menandakan penyakit yang sudah parah. Tapi rupanya ada juga kemiskinan yang akut. Beberapa waktu lalu ada berita di tv one bertajuk seperti ini. Berita nya ada seorang ibu yang tega mengajak 2 orang anaknya meminum racun tikus demi mengakhiri hidupnya yang jauh dari kategori cukup secara materi, menurut versinya. Mungkin ini adalah salah satu yang terekspos dari sekian banyak kasus bunuh diri karena putus asa akan kemiskinan.

Yang jadi perhatianku di sini adalah si anak tersebut yang gak tau minuman apa yang diberikan ibunya. Mereka (2 anak tersebut) hanya tau bahwa minuman tersebut adalah obat, karena ibunya bilang demikian. Soal rasanya yang gak enak mungkin si anak udah faham kalo obat kan biasanya pahit. Makanya dua anak tersebut mau mau aja ketika disuruh meminum racun itu, dengan kepolosannya. Padahal anak-anak tersebut masih bisa tersenyum di tengah himpitan hidupnya, anak tersebut masih punya harapan dan cita-cita untuk masa depannya.

Sungguh naas yach, ibaaa banget rasanya. Saking gak kuatnya menahan derita hidup yang dialami, si ibu sampe tega berbuat seperti itu. Padahal nich menurutku tiap masing-masing diri kita dan tiap jiwa anak yang terlahir pasti sudah ada rezekinya masing-masing. Kapasitasnya saja yang berbeda sesuai dengan ketentuan dan ridhonya Allah. Tergantung seberapa besar kita berusaha dan bersyukur. Karena sesuai janji-Nya, siapa yang bersyukur, maka akan ditambah rizkinya, dan sebaliknya, siapa yang ingkar, maka adzab-Nya akan sangat pedih.

Yang aku sesalkan, kalo misalnya si ibu udah gak kuat merasakan derita kekurangannya, mbok ya jangan mengajak anak-anak nya yang gak berdosa untuk ikutan mati bersamanya. Silakan ibu minum racunnya sendirian aja, jangan pake bawa anak-anak segala. Mereka gak berdosa..masa depannya masih panjang,. Iya kalo setelah minum racun bisa langsung meninggal, mending! (dosa tapi). Ini kalo ternyata Allah berkehendak panjangnya umur dia, kan malah bisa tambah menderita, malah bisa timbul penyakit baru akibat dari racun itu. Gereget juga aku jadinya!!

Aku bisa bicara begini juga mungkin karena aku gak merasakan apa yang diderita si ibu tersebut. Yah, kita semua tau hidup zaman sekarang segalanya serba mesti dengan uang. Bahkan untuk buang air kecilpun mesti bayar seribu perak, di toilet umum. Bisa aja sich sebenernya yang gratis, di pinggir-pinggir jalan, dengan resiko digebukin petugas kebersihan, hehe.. pertanyaannya, mampukah kita hidup pada posisi seperti mereka?

Lagi-lagi pangkalnya adalah pondasi yang kuat. Kalo keimanan yang kuat, maka ujian dan derita seberat apa pun akan bisa dilalui, dengan mau berjerih payah, dan keyakinan bahwa segala sesuatu pasti ada jalan kemudahannya dari Allah serta yakin bahwa Allah gak akan menelantarkan hamba-Nya yang yakin kepada-Nya.

Berita ini setidaknya menyentil diriku untuk semakin bersyukur pada-Nya bagainmanapun kondisiku karena termasuk yang beruntung dibandingkan dengan mereka, bisa berada di tengah-tengah keluarga yang bahagia walopun dengan materi seadanya. Karena kebahagiaan itu bukan cuma ditunjang dengan materi. Juga mengingatkan ku soal berinfak, kalo ada. Kalo gak ada pun harus tetep bersyukur.

Allahumma innii a’udzubika minal kufri wal fakr

Ya Allah, sesungguhnya aku berindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Amin

Photobucket

ihwal MASAK-MEMASAK

Pagi-pagi rebun banget aku udah merenung.. bukan merenung di teras rumah, bukan juga di pantai nan elok. Bukan merenungi nasib karier yang belom kesampean jadi PNS, juga bukan mikirin pengen punya anak lagi. hehe… Tapi tidak lain dan tidak bukan, pagi-pagi banget aku merenung di warung mikirin menu apa yang enak disajikan pagi dan hari ini. Binun mo masak apa, sampe-sampe yang punya warung pun ikutan bingung ngadepin calon pembeli yang kebingungan kayak aku.

Ini mungkin suatu keadaan yang wajar dikeluhkan oleh emak-emak kayak aku, yang kurang mahir dalam soal masak memasak. Pagi-pagi buta, ketika mata terbuka dari buaian mimpi, yang pertama kali dipikirin bukannya soal utang dan sebagainya. Tapi mikirin menu apa kira-kira yang cocok untuk sarapan pagi ini.

Sebenernya aku bukannya gak punya koleksi buku panduan masakan, malah bejibun, browsing-browsing juga sering. Masalahnya bahannya itu loch yang agak langka di sini. Toserba yang ada deket rumah pun jarang yang menyediakan stok bahan-bahan masakan. Atau misalnya ketika ketemu resep yang gampang bahannya, masaknya yang ribett..

Lain halnya dengan orang-orang yang emang udah terampil masak. Bahan makanan apa pun bahkan yang biasa pun bisa jadi masakan yang istimewa. Atau ketika ketemu resep menu masakan baru, bisa langsung dipraktekin tanpa ba bi bu lagi dan tanpa ribet, hasilnya pun memuaskan. Beda banget sama aku yang kalo secara gak sengaja misalnya nemu resep masak baru, ketika dipraktekin, masakannya sich bisa sukses jadi makanan, tapi rasa-nya bisa sukses juga, bikin orang nyengir, menelaah bumbu apa yang kebanyakan dan yang kurang.

Pernah aku nyoba-nyoba bikin sambel tomat (saat itu pertama kali bikin), yang kata orang-orang paling simpel, tapi hasilnya…komentar suami : “hmmmm…rasanya kok aneh ya??”. hehe…

Masih bersyukur karena suami ku bukan orang yang rewel. Do’i nerima banget keadaan instrinya nan mungil menggemaskan ini, yang gak bisa masak, ehhmmm…RALAT dech : yang kurang mahir masak.
Lop yu pul..my hub..
Karena sebenernya aku bukannya gak bisa-bisa banget masak, buktinya aku masih bisa masak nasi, masak mie instan, masak air dsb. Dooh itu doang sich semua orang juga bisa jeng dess..!! hehe.. ini nunjukin betapa parahnya aku sebagai istri dan sebagai perempuan. Makanya dulu-dulu udah pernah aku bilangin kalo aku tuch masih jauuuuuuh banget dengan kategori istri ideal, dan kategori menantu idaman.

Yaaa kalo disuruh masak sop sapi ato sayur asem mah masih bisa lah..hehe..piiiss

Salahku juga kenapa gak dari jaman masih orok nyoba-nyoba belajar masak, sekarang setelah jadi istri orang baru dech kerasa, betapaaa sebagai seorang istri yang pengen sholihah itu wajib bisa masak. Dulu ketika masa-masa nya aku yang lagi lucu-lucunya boro-boro pengen belajar masak, ke dapur pun emoh. Tiap disuruh masak sama ibuku aku pasti menolak dengan 1001 alasan. Kayaknya daripada masak, mending milih nguras sumur dech, atau ngepel lapangan sampe mengkilat. Sekarang..nyeselnya bukan main.

Kalo berkunjung ke blog tetangga yang temanya menu masakan, aku cuma bisa ngeleerrr doank. Kayaknya kalo ada yang buka kursus memasak di sini, aku pasti jadi pendaftar peserta pertama dech.

Photobucket

ANTARA 2 BANNER

“Shbt smw… Hps akun FB qt yuk! Cz pnghsiln FB tu utk mmbiayai perang GAZA. Tafaddhal utk bka link http://wassalamfacebook.blogspot.com. Yo qt hijrah ke MFB (www.millatfacebook.com). Situs ini pengganti FB n dbwt olh pmuda Pakistan utk umt mslm. Pmrnth Pkstn n Bangladesh udh blokir FB”

Beberapa hari yang lalu ada pesan di inbox, isinya kurang lebih gitu. Mungkin sebagian besar pembaca udah pada tau dan dah pada dapet sms ini.

Coba sodara-sodara liat di sidebar blog ku ini. Di satu side bar ada akun facebook ku. Di satunya lagi ada banner save Palestina.

Minta pendapat dan masukannya kawan, aku ga mo jadi orang munafik yang berfihak pada dua kubu yang sebenarnya gak saling sejalan. Di satu sisi aku (kita) mendukung banget gerakan save Gaza, peduli Palestina ini. Di sisi lain aku juga masih perlu berhubungan dengan fren-fren yang rata-rata masih aktif di FB. Aku sendiri sebenernya gak begitu aktif berkeliaran di FB. Paling kalo perlu berhubungan ma temen yang ga da nomor telepon nya. Aku juga langganan artikel-ertikel yang bermanfaat dari beberapa group semisal Mahabah Qolbu, Smart Parenting, Cinta Rasul SAW dan masih banyak lagi yang sejenisnya. Plus buat sekedar berhibur, komen sana sini.

Waktu coba ku tanya pada salah seorang temenku, pendapatnya tentang ini kurang lebih gini : “ah ini sich akal-akalannya yang buat millatfacebook.com aja, biar laku. Nah pas sekarang timing nya soal agresi Israel di Gaza, kondisi yang kebetulan banget buat doski melancarkan aksinya, ngiklanin jejaring sos bikinannya.”

Aku : “….???#@$^&*% ????? “

Ahhh.. jadi binun neh..
Mari atuh cek dulu link yang tercantum di sms tersebut. Yuuukkss…

Photobucket

INDAHNYA BERBAGI

Temans, pernahkah dirimu menerima tamu? Tapi tamu yang aku maksud bukan tamu spesial atau pun pejabat, melainkan pengemis atau peminta-minta? Jawabanyya pasti kebanyakan iya. Apalagi yang kebetulan tinggal di daerah yang terlihat masih kental sisi kemasyarakatannya. Maksud ku daerah yang kelihatannya masih sering diadakan kegiatan-kegiatan sosial dan sebagainya. Tahu kenapa, karena pengemis juga bisa menilai masyarakat seperti apa yang mungkin memiliki kepedulian yang tinggi.

Atau pernahkah dirimu bertemu dengan pengamen atau peminta-minta ketika zamannya masih suka naik turun angkutan dulu terutama bis. Ini tentunya bagi yang pernah mengalaminya, masa-masa ketika masih sekolah dulu, sebelum seperti sekarang ini yang kemana-mana udah pake mobil pribadi. Atau bisa juga bagi yang berkendaraan pribadi ketika berhenti di lampu merah gak jarang kita menemukan peminta-minta atau pengamen jalanan.

Gak jarang pula yang terjadi adalah : para orang-orang yang dimintai itu menolak untuk memberi, padahal uang di dompetnya banyak uang ratusan ribu misalkan. Lalu mereka beralasan karena gak ada receh. Atau gak sedikit pula orang yang ketika pintu pagar atau pintu rumahnya diketuk, tapi pura-pura gak denger atau bahkan tiba-tiba dengan sengaja menghentikan semua bunyi-bunyian biar dikira lagi gak ada orang di dalem rumah.

Kenapa? Sebagian mungkin ada yang berfikiran bahwa dengan memberi pengemis tersebut, itu artinya kita tidak mendidik mereka, atau sama saja dengan mengajarkan mereka tentang kemalasan dalam berusaha mencari nafkah. Padahal mereka sehat wal afiat dan kuat.
Ya. Aku tau persis asalan yang satu ini, karena…. Akulah dulu yang berfikiran seperti ini. hehehe… piiis…

Wait…tapi jangan ilfil dulu sama dirikuh. Yang jelas sekarang cara berfkir ku udah berubah, udah insaf, hehe... Dan yang tertanam di fikiranku sekarang adalah, bahwa :

Di dunia ini ga ada seorang pun yang pengen punya profesi sebagai seorang pengemis, cuma mungkin karena nasib mereka lah yang tidak sebaik kita. Mereka pun sama, pengen bekerja dan berpenghasilan, namun karena kurangnya keterampilan dan kemampuan mereka sehingga untuk bekerja sebagai pencuci piring di sebuah warteg pun ga ada kesempatan dan atau belum ada yang memberi kesempatan, makanya mereka mengemis untuk menyambung hidup.

Dengan berfikiran seperti itulah aku bisa merasakan indahnya berbagi, untuk tidak lagi mencuek-an pengemis atau peminta-mina, dengan menyisihkan beberapa perak, bahkan gope-an sekalipun, ga masalah. Yang penting memberi. Dan yang terutamanya adalah ikhlas.

Tapi ada satu yang mengusik hatiku, ketika bertemu dengan seorang pengemis ibu-ibu, dengan menggendong seorang anak balita, sekira 3-4 tahunan. Hatiku serasa gerimis melihat anak yang digendongnya, dalam keadaan letih lemah dan lesu. Sungguh sangat mengkhawatirkan. Yang terlintas di benakku saat itu adalah, siapa tahu anak itu bukanlah anaknya (gak peduli bagaimana ia mendapatkan anak tersebut), dengan tanpa merasa berdosa dia dengan sengaja gak ngasih makan minum itu anak biar dengan kondisinya yang mengenaskan itu, dia bisa menarik simpati orang-orang yang ditemuinya untuk kemudian agar memberinya.

Berapa banyak anak yang telah menjadi korban, baik itu anaknya sendiri maupun anak orang lain yang ia manfaatkan demi mendapatkan sumbangan.

Akhir-akhir ini sempet juga tersiar kabar, terutama di perkotaan, tentang maraknya aksi penculikan anak-anak. Entah itu untuk diperjual belikan atau untuk dimanfaatkan mencari sumbangan dan sejenisnya. Na’udzubillah.

Mari para bunda untuk lebih ekstra ketat lagi dalam pengawasan terhadap anak-anak kita. Bahkan diberitakan ada salah satu artist Indonesia yang membekali anak nya yang masih bersekolah di SD dengan HP. Memang sii dengan HP, komunikasi bisa lebih mudah. Tapi timbul pertanyaan, apakah dengan HP tidak malah memancing si pengintai? Wallahu a’lam. Yang penting kita udah berbuat yang terbaik untuk keselamatan anak kita.

Photobucket

SOSIALISASI BERTETANGGA

Beberapa waktu lalu ada percakapan yang kurang lebih seperti ini :

(telah ditranslate dari bahasa Sunda)
Belio : Kamu itu kok ya ga mau sosialisasi sama orang-orang sekitar (para tetangga).
Aku : Sapa bilang? Aku suka kok gabung ma mereka.
Belio : Mana? Belom pernah aku liat kamu duduk bareng mereka, ngobrol..
Aku : Kamu nya aja yang gak pernah liat.
Lagian emang menurutmu sosialisasi itu apa sich? Kongkow-kongkow? Nongkrong bareng?
Ngomongin orang lewat?

Belio : ……

Intinya belio mempertanyakan ketergabunganku dengan orang-orang sekitar yang dia anggap kurang.
Hmmmmh…

K alo dipikir-pikir ironis memang yah. Pengertian sosialisasi dalam hidup bertetangga banyak yang kurang faham, atau lebih tepatnya, banyak yang sudah menyalah artikan. Banyak yang berfikir bahwa hidup bertetangga itu harus sering-sering berkumpul duduk bareng dengan tanpa mempedulikan apa maksud dari perkumpulan tersebut.

Memang sich bagus, dengan berkumpul duduk bareng berarti telah menguatkan tali silaturrahmi. Tapi coba lihat lagi… apa dengan berkumpul nangkring seperti itu bisa bersih dari yang namanya menggunjing? I say NO dear! Bahkan ga jarang, dengan perkumpulan-perkumpulan seperti itu, orang lewat pun jadi bahan pembicaraan. Bagus kalo yang dibicarakan adalah hal-hal baiknya. Tapi ini sungguh-sungguh sangat jarang sekali.

Ceritanya pernah suatu kali aku coba ikutan dalam riungan para ibu-ibu yang lagi ngobrol di teras depan salah satu rumah tetangga, yang letaknya gak jauh dari rumahku. Dalam waktu GAK LEBIH DARI 15 MENIT saja aku dah dapet info baru, tepatnya gossip. Bahwa ada salah satu tetangga pasangan suami-istri muda yang bentar lagi mo cerai gara-gara suaminya yang impoten…was…wis…wus…. Whattts? Luar binasa yah.. hanya dalam waktu bentar aja. Apa lagi kalo sampe 1 jam 2jam bahkan berjam-jam, bisa ngomongin orang sekampung kalee.

Yang awalnya gak tau, jadi tau. Mana info tersebut belom tentu kebenarannya. Karena biasanya gossip itu berantai, si A dari si B, si B dari si C, dst. Mending kalo berita itu bener dan gak ditambah-tambah. Nah kalo salah dan udah dibumbui, sudah dosalah kita menggunjingkan seseorang. Runtuhlah pahala kebaikan kita karena bergunjing itu.

Coba tengok lagi tentang ibu-ibu yang banyak menghabiskan waktunya, berkumpul di teras rumah tetangga. Gak jelas juntrungannya, ketawa-ketiwi, cakakak-cikikik, bahkan gak jarang mereka menggunjing mencibir sebagaian ibu-ibu (yang gak termasuk dalam komunitas mereka), gak gaul lah, gak merakyat lah dsb. Bahkan mungkin (mudah-mudahan aku salah) mereka teteeep aja asoy kongkow ketika adzan berkumandang pun. Hiiiiih…!

Apakah seperti itu yang dinamakan sosialisasi menurut Anda? Kalo gitu SORRY AKU GAK BISA!
Selain karena aku sebagai WM, aku juga di rumah ga punya asisten RT, so mendingan beres-beres, nyetrika, nyuapin n mandiin si Zaheer, manjain diri di kamar mandi, baca buku dsb. Biar pas suami dateng kerja, udah fresh dan keadaan rumah pun udah agak tertib, setelah seharian diberantakin ma krucil. Lebih bermanfaat mana coba?

Walopun begitu, bukan berarti aku sama sekali gak mau gabung dengan orang-orang sekitar. Bersosialisasi dalam bertetangga menurutku cakupannya : dalam hal muamalah sehari-hari, (mis : jual beli dsb), bertamu duduk sebentar, kerja bhakti sosial, penuhi hak-hak bertetangga (menjenguk jika sakit, saling mendoakan, dsb) tegur sapa, tanya kabar, berbagi kalo ada yang bisa dibagi, dan sebagainya. Bolehlah sekali-kali mengadakan acara bersama, misal dengan diadakan arisan dsb dengan tetap menjaga kehormatan keluarga masing-masing. That’s what I mean.

Photobucket

GANTI KULIT

Pernahkan sodara-sodara sekalian merasakan suatu kebosanan? Rasanya beteee gitu, pengen ada perubahan, apapun itu. Mungkin beginilah gambaranku saat ini. Ada sesuatu yang sepertinya pengen meledak-ledak, dari atas dan dari bawah.

Hmmm apa pun itu, tapi jangan sampai melupakan rasa syukur kita dengan apa yang ada pada diri kita sekarang. Betull?

Oleh karenanya, makanya dengan senang hati saat ini aku tampilkan penampilan baruku. Yah walopun dengan segala kekurangan, masih perlu perbaikan sana-sini. Dengan judul yang berbeda tentunya.

Why? Sebenernya awalnya aku pengennya bikin blog lagi yang bisa buat nyeritain curhatan dan semisalnya, dengan tetap membiarkan blog nya Zaheer’s Stories. Tapi setelah pikir punya pikir lagi, bagiku punya satu blog pun jarang banget di-update. Apalagi kalo seandainya punya 2 blog. Jadi ya sudah lah, solusinya aku rubah judul blog ku –yang cuma satu-satunya– ini.

Yang pastinya temanya juga berubah, yang awalnya hanya menggambarkan perkembangannya Zaheer, kali ini jadi tentang semua hal, apa aja.

So,para mommies blogger and all friends, kedepannya walopun aku ternyata masih jarang nulis juga, jangan pernah bosen ya berkunjung ke blogku –yang cuma satu-satunya– ini.

Oke segitu dulu pengawalan dari episode ganti kulit kali ini. Sampai jumpa di lain kesempatan.

Photobucket

TEMU KANGEN

Aahhhh… akhirnya .. bisa OL lagi. Setelah sekian lama, kutelantarkan blog ini karena berbagai hal, mulai dari soal koneksi yang ilang mulu, sampe soal kesibukan-kesibukan kerjaan (ceileee... kesannya so sibuk getoh!) ... yang telah bikin dakuh gak bisa nyentuh inet sama sekali.

Hai... hai... hai... sapa-sapa dulu temen-temen semuanya. Gimana kabarnya? Kangen euy. Kangen sama celoteh-celoteh dan juga kangen mencelotehi (???) tepatnya sich mengomentari. Ya..ya..ya...

Miss you all.. muach... Kedepannya mungkin bisa cerita-cerita lagi soal my lovely Zaheer. Masih akan terus cerita soal perkembangannya, tentang pernak-pernik kehidupannya, masih akan terus melancarkan aksi blogwalking dalam rangka silaturahmi, dan masih akan terus menambah daftar temen-temen biar bisa terus tambah wawasan, terutama soal pengasuhan. Insya Allah …


Oya… gak lupa, makasih banyak buat temen-temen yang tetep rajin nengokin Zaheer walopun aku lama gak OL. Makasih yaaa… dan jangan bosen-bosen.



* S * E * L * A * M * A * T * * H * A * R * I * * I * B * U *


Photobucket

GANTI WAJAH

Setelah sekian lama cari-cari template, akhirnya dapet juga yang nemplok di hati.
Jadi juga dech ganti wajah.

Tapiiiii, seperti yang temen-temen liat, penampilan ini masih belom sempurna.

Masih perlu rehab sana-sini.


Oleh karena itu, kami, atas nama keluarga Nur Rusydi, dengan segala kerendahan hati yang serendah-rendahnya, mengharapkan keridhoan bapak/ibu/sdr dengan sedalam-dalamnya, memohonkan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidak nyamanan berkunjung ke blog ini.
Hehehe…bahasanya terlalu dibuat-buat ga sich?

Aku juga belom tau, ni template udah ada yang pake atau belom yah.
Sambil lagi-lagi tengok kanan kiri.

Perbandingan :
Masih sama-sama childish dengan yang lalu.
Warna yang ini agak gelap, tapi lebih rame.
Kali ini ada yang bergoyang (lihat bagian pojok kiri atas)

Penilaian :
Suka gak suka, mesti suka.
Terima gak terima, harus diterima.

Photobucket

Dulu dan sekarang

Kali ini mamanya yang mo diceritain, sedikit memflash back. Gak papa kan? ... sah sah aja. Hmmm kalo diingat-ingat lagi, tentang masa lalu. Tentang masa-masa remaja dulu. Dibandingkan dengan sekarang, tentunya buanyaaaak banget perubahan. Ya iya lah! Namanya juga orang hidup. Mesti berubah.

Dulu ... aku termasuk orang yang gak terlalu suka anak kecil, dan gak terlalu peduli. Kadang kalo ada anak kecil lewat, seringnya aku cuek aja, kadang nyapa juga sekenanya. Pernah di suatu angkutan umum yang aku naikin, ada anak kecil yang barangkali kurang suka dengan aroma bensin mobil, dia muntah/olab, tepat di dekatku. Saat itu aku merasa jijik bukan main. Aku pun sampe pindah tempat duduk, tanpa mempedulikan perasaan ibu anak tersebut.

Bahkan, saat adikku masih bayi, boro-boro ngajak maen kemana gitu, ngasuh pun bisa dibilang jaraaaaang banget. Hingga saat aku kerja dan gak tinggal di rumah lagi untuk beberapa saat, aku sama sekali gak tau perkembangan adikku itu. Tau-tau udah gede. hehe... Duh.. kakak kurang asem ya!

Dan ... sekarang, setelah aku menikah dan ada Zaheer, berbalik 180 derajat. Naluri keibuanku serasa muncul gitu aja. Gak jijian lagi sama yang namanya muntahan bayi, malah sering kena muntahnya, rela. Begitupun sekarang aku juga ikhlas dipipisin sama bayi. Aku juga jadi care banget sama anak-anak, terutama anak kecil.

Sanggup menghibur anak kecil yang lagi nangis, bisa merasa iba saat menonton tayangan ada anak-anak golongan gizi buruk, tidak tega ketika liat tayangan ada bayi yang sampe membiru bahkan meninggal karena ditinggal ibunya di tempat sepi. Rasanya sediiiih banget saat melihat tayangan tentang banyaknya ditemukan mayat bayi di tempat sampah atau pun di sungai. Mataku bisa sampe berkaca-kaca kalo mendengar berita-berita semacem itu. Aku bahkan bisa sampe menangis membaca cerpen tentang seorang bayi yang dibuang ibunya dalam keadaan masih berlumuran darah dan dengan sebagian ari-ari masih menempel karena baru lahir.

Mungkin perasaan-perasaan ini sudah pasti dirasakan semua ibu/wanita. Sungguh hebat yah, menjadi seorang ibu. Dulu aku mana pernah seperti itu. Beda banget sama ayahnya Zaheer yang emang penyayang anak kecil dari dulunya. Makanya aku bersyukur banget, bisa merasakan perasaan kodrat seorang wanita/Ibu. Gak kebayang kalo misalnya sampe sekarang aku masih sama kayak dulu. Huaaahh bisa kacau dech mengurus Zaheer.

Hmmm... ngomong-ngomong soal Zaheer, alhamdulillah sekarang udah betah sama pengasuhnya yang ini. Oya, nama pengasuh yang sekarang Ibu Enjun. Yah mudah-mudahan Zaheer baik-baik aja bersamanya.

Photobucket

Curhat Rumah Baru


Dah lama gak bisa posting.. Ada cerita menggembirakan, ada juga yang menjengkelkan. Ceritanya tanggal 26 kemaren, kami sekeluarga pindahan rumah. Yang awalnya kami hanya numpang-numpang di rumah ortu, rumah mertua dan rumah orang laen (heheh.. ngontrak maksudnya) , alhamdulillah sekarang dah punya yang permanen. Dengan kata lain kami udah punya rumah sendiri.

Maklum lah kita baru berumah tangga selama 2 tahun lebih dikit. Baru punya rumah sekarang. Karena emang sejak awal, prinsip kami ga mo nyusahin ortu kami. Pengen merintis sendiri dari awal. Walopun sebenernya, mertua juga udah beberapa kali nawarin tinggalnya di rumahnya aja, yang kelak rumah tersebut untuk kami. Tapi kami juga berpikir, pengen ada sesuatu yang bisa kami hasilkan, dengan jerih payah kami. Pengen ada sesuatu yang bisa diwariskan buat anak-anak kami kelak. Jadi ada semacem kebanggaan tersendiri.


Nah, kalo kami hanya menerima pemberian ortu, kan ceritanya laen, namanya juga rumah ortu, pasti selamanya disebut numpang, walopun kelak rumah tersebut akan jadi milik sendiri, misalkan. Dan aku juga termasuk orang yang gak enakan. Pasti gak bebas untuk melakukan suatu apapun, misalnya pengen jadiin rumah begini, atau pengen jadi gitu. Beda lagi kalo yang punya sendiri. Mo diapain juga terserah sendiri.

Kembali cerita soal rumah baru, rumahnya sich amat sederhana dan gak begitu luas. Terdiri dari 3 kamar, ruang tamu, ruang tengah, dapur dan kamar mandi. Untuk ruang makan, ditempatkannya di dapur aja sementara. Ada halaman depannya, ga luas-luas amat sih tapi cukup buat nanam bunga-bungaan, hobiku dan hobi suami. Rumah ini udah agak lama dibangun, so masih perlu rehab sana sini. Jadi belom bisa dipampang potonya. Ntar aja kalo dah rapi ya.

Soal lokasi, lumayan strategis, hanya terhalang oleh tiga rumah dari jalan raya provinsi, bukan di gang, tapi tepat di pinggir jalan desa. Rumahnya menghadap ke timur dan utara. Jadi rumah sehat, insya Allah. Hmmmh pokonya legaaa dech rasanya, akhirnya bisa punya rumah sendiri.

Itu cerita menggembirakannya. Kalo cerita menjengkelkannya, masih tentang rumah itu.

Begini, sebelumnya, rumah tersebut listriknya dipake buat di dua rumah, rumah yang sekarang dibeli dengan yang sebelahnya, punya adiknya. Nah, di awal akad, yang punya rumah menjanjikan, kalo setelah menerima uang secara tunai/lunas, akan langsung dipasangkan listrik satu paket lagi, terpisah dari yang lama. Oke, kita bayarlah secara langsung semua.


Setelah lunas, si pemilik rumah pulang ke rumah anaknya di Tasik, dengan catatan sebelumnya sudah menitipkan pesan sama adiknya untuk memasangkan listrik baru. Beberapa hari kemudian, adiknya dateng ke rumah, menyampaikan pesan si pemilik rumah bahwa pemasangan listrik ditanggung oleh kami. Tentu dong kita terkejut, ya kita gak terima lah.. Itu sama halnya dengan mengingkari perjanjian jual-beli rumah.


Karena udah keburu emosi kita pun langsung berniat membatalkan pembelian rumah, dan meminta uang kembali utuh! Si adik pemilik rumah tadi mengatakan (dari kakaknya) kalo uang penjualan rumah udah dipake beli tanah, ini dan itu, jadi intinya gak bisa dikembalikan. Huh..! dari situ kita bener-bener deh kecewa berattt.. merasa ketipu. Udah mah kita teh udah capek-capek pindahan, mana baru tau kalo airnya di musim kemarau gini suka agak seret, yang sebelumnya dikasi taunya lancar-lancar aja. Lengkaplah sudah kekecewaan kita terhadap pemilik rumah.
Langsung dech si ayah telepon-telepon temen-temennya, nawar-nawarin nih rumah. Karena emang udah bulet berniat dijual aja. Pokoknya kecewaaaa!

Di tengah-tengah kegeliasahan ini, baru teringat, ada sesuatu yaang hampir terlupakan, yaitu telepon langsung pemilik rumah, dan alhamdulillah ada nomor anaknya yang di Tasik. Maka tersambunglah ke si pemilik rumah. Dan ternyata ...! sesuatu agak mengejutkan, kata si pemilik rumah, bahwa dia gak membatalkan soal pemasangan listrik, bahkan akan mengurus sendiri katanya, sesuai kesepakatan, ditanggung olehnya. Dan dia janji tanggal empat Juli ini mo ke kuningan, dan mengurus-urus semuanya.


Hmmm.. plooong.. rupanya ini permainan si adik pemilik rumah, yang mungkin pengen mengambil keuntungan dari sini. Masya Allah... ternyata ada orang seperti itu, jadi pengen jitak tuh orang.


Dan moga-moga, si pemilik rumah (mantan maksudku) akan melaksanakan janjinya. Insya Allah, mudah-mudahan.


Oya, buat temen-temen blogger, aku n keluarga minta doa restunya, menempati rumah baru ini. Semoga rumah ini menjadi rumah yang pernuh berkah, rumah yang manaungi kami di dalam keluarga yang sakinah, mawadah warohmah. Amin.


Cat : Karena listriknya masih belom kuat berkompie ria (masih dipake di dua rumah), jadi mungkin gak bisa blogwalking tiap hari. Banyak absennya. Thanks all...

Photobucket

Muslimah Bicara

Terinspirasi dari pesannya teman di facebook. Sebuah puisi, masih tentang wanita, buat para wanita, para isteri, dan buat para ibu.
To Abu Ario, thanks a lot.

Tak ingin kujadi seorang dara,
Yang bangga dengan kecantikan dan wajah rupawan,
Yang kuimpikan muslimah sejati,
Seri wajahnya bukan karena solekan,
Cahaya paras rupa dari kesegaran wuduknya.

Tak ingin kujadi seorang wanita,
Yang bangga dengan suara yang merdu bak buluh perindu,
Menyanyi lagu mendendang irama,
Yang kuimpikan kelembutan suara,
Mengalun tajwid kitab suci, menghafal zikrullah,
Buat bekalan di hari penghisaban.

Tak ingin kujadi perempuan ,
Yang megah dengan hiasan gemerlapan,
Berbaju tetapi bertelanjang,
Yang kuimpikan muslimah sejati,
Menutup segala keindahan,
Demi menjaga maru’ah diri.

Tak ingin ku jadi teman bermusim,
Yang menukarkan kasih sayang dengan kemewahan,
Yang kuinginkan teman sehidup semati,
Memberi kasih sayang setulus hati,
Bukan cinta dari mata bertuankan nafsu.

Tak ingin ku jadi isteri yang bertakhta,
Yang mengharap ridho suami bila kekayaan di depan mata,
Yang kuimpikan menjadi isteri solihah,
Menjadi sumbu cahaya suka duka perjalanan.

Tak ingin kujadi seorang mama,
Yang membiarkan anugerah Illahi tanpa didikan asuhan,
Yang kuimpikan menjadi seorang ibu,
Ibu mithali yang menjadi semangat juang putera- puteri.

Photobucket

Saat Mama Pergi ...


Anakku.. Hampir tiap pagi mama pergi ngantor. Saat kamu sudah bersama pengasuhmu. Saat itu hanya tatapan kosong matamu. Entah apa artinya. Apa yang kamu pikirkan saat itu. Saat tiap kamu menyaksikan mama berangkat kerja di pagi hari.

Kadang mama berharap lambaian tangan mungilmu. Tapi kamu sama sekali ga melakukannya. Marahkah atau memang perasaan-perasaan selainnya. Kadang kamu mengiringi kepergian mama dengan tangisan, kadang kamu malah seperti ga peduli. Atau adakah perasaan sedih tiap kali mama tinggalkan. Semua terselimuti dalam redupnya pandanganmu.


Ada kalanya perasaan sedih mama saat meninggalkanmu. Ada kalanya malah perasaan biasa-biasa saja saat kamu tetap ceria walaupun melihat mama pergi. Di tempat kerja, gak jarang mama merasa risau dan gundah mengingatmu.


Apakah selama mama tinggalkan, kamu baik-baik aja ataukah sebaliknya. Bagaimana perasaan mu saat bersama pengasuhmu selama hampir seharian. Ketika kamu bermain bersama teman seusiamu yang selalu didampingi ibunya, adakah perasaan iri dan sejenisnya.


Walaupun kamu masih seorang bocah yang baru berumur 15 bulan, bukan berarti kamu tidak merasakan perasaan-perasaan seperti itu. Mudah-mudahan suatu saat kamu bisa mengerti alasan-alasan semua ini, sebab mama meninggalkanmu setiap hari. Adalah untuk masa depanmu, masa depan kita, yang lebih baik lagi. Insya Allah.

Photobucket

wANITa...


Malem-malem dapet sms *suaranya ngagetin bgt, pas aku lagi leyep-leyep...detik-detik nyebrang ke alam mimpi*, dari nomor gak dikenal. Kemungkinannya siy nomornya kedelete n belom sempet di-apdet, coz beberapa hari yang lalu ponselku kena viruss. Gara-garanya keseringan dipake fesbukan. *hmmm rrrrasainnn...!!*

Yupz, whoever and whenever, buat Mr. or Mrs. xxxx618, thanx yaa.. Dan mudah-mudahan Allah selalu memberikan keberkahan... amin.

Isi sms-nya kurleb begini :

Sebuah inspiring words
Wanita yang baik bisa melukis kekuatan lewat masalah yang dihadapinya
Tersenyum saat ia tertekan
Tertawa saat hati sedang menangis
Memberkati di saat terhina
Mempesona karena memaafkan
Wanita yang baik, memahami tanpa pamrih
dan bertambah kuat dalam do’a dan pengharapan
Semua itu dilakukan karena jalan menuju ridha Allah SWT.

Hmmm..silakan para pembaca menjabarkannya sendiri. Yang jelas, menurutku wanita itu luar biasa, kalo bisa seperti itu, tidak ada keluhan dan keputus-asaan. Makanya aku sendiri bangga jadi wanita walopun belum bisa sepenuhnya menjalankan seluruh kewajiban sebagai wanita seutuhnya. Karena apa? Karena Islam sangat menjunjung tinggi wanita.

Oleh karena itu, wahai para calon ibu, dan para emak-emak, mari kita sama-sama terus berkarya dengan selalu berfikir positif, sebarkan salam dan maaf *aku siy kadang masih susaaaah buat memaafkan*, jangan pernah merasa lelah, demi anak-anak kita dan masa depannya yang fana dan yang kekal. Insya Allah.

Photobucket